
Sore itu saya berhenti di salah satu perempatan Ring Road Yogyakarta, menunggu lampu merah berganti hijau seperti ratusan kali sebelumnya. Namun, ada yang berbeda kali ini. Seorang anak, kira-kira baru berusia tujuh tahun, berjalan cekatan dari satu motor ke motor lain, dari kaca satu mobil ke kaca mobil berikutnya. Di tangannya tergenggam beberapa bendera merah putih kecil, pernak-pernik yang biasa dijajakan menjelang tujuh belasan.
Setelah lampu merah berubah menjadi hijau dan kendaraan saya melaju, saya bilang ke teman yang membonceng, anak itu sedang menjual simbol kemerdekaan dari sebuah negara yang justru gagal memerdekakannya dari kemiskinan. Sangat ironi. Bendera yang semestinya menjadi penanda kebebasan kolektif, di tangan anak itu berubah menjadi alat bertahan hidup di bawah terik matahari dan asap knalpot.








