
Beutong Ateuh Banggalang, sebuah wilayah elok yang dikelilingi perbukitan hijau di Nagan Raya, tengah dihadapkan pada masa kelam. Belum genap setengah tahun warga menangis kala rumah dan sawah mereka hancur disapu banjir bandang pada November 2025 lalu, kini mereka dipaksa memikul beban baru. Pemerintah daerah justru menerbitkan izin baru untuk perusahaan tambang emas dan tembaga di kawasan tersebut.
Bagi masyarakat setempat, kebijakan ini terasa sangat melukai rasa keadilan. Di saat warga masih tertatih menata hidup kembali, negara justru membukakan pintu bagi industri ekstraktif yang berpotensi merusak alam. Isu ini bukan sekadar masalah selembar surat izin di atas meja birokrasi, melainkan pertaruhan nyawa dan masa depan ruang hidup manusia. Di balik ketegangan ini, terdapat benturan relasi kuasa, agraria, dan lingkungan yang perlu kita bedah untuk memahami mengapa masyarakat akar rumput memilih jalan perlawanan.








