
YOGYAKARTA – Perkuliahan perdana Semester Genap Tahun Ajaran 2025/2026 di Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik (MPRK) UGM bukan sekadar penanda dimulainya kalender akademik, melainkan sebuah undangan untuk memasuki kembali ruang dialektika yang tajam dan reflektif. Di tengah kompleksitas tantangan global dan lokal yang kian dinamis, MPRK UGM menegaskan posisinya sebagai laboratorium intelektual yang tidak hanya mempelajari perdamaian sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai upaya aktif mendekonstruksi akar-akar kekerasan dalam masyarakat.
Peta Epistemik:Menelusuri Akar dan Transformasi Konflik
Semester ini, mahasiswa diajak untuk membedah realitas sosial melalui lensa yang multidimensi. Pada level fundamental, pemahaman mengenai identitas dan metodologi diperkuat melalui mata kuliah Etnisitas: Konflik dan Perdamaian bersama Prof. Dr. Mohtar Mas’oed, serta Metode Penelitian Sosial yang diampu oleh tim pakar yang terdiri dari Prof. Mohtar Mas’oed, Dody Wibowo, Ph.D., dan Dr. Titik Firawati. Kedua mata kuliah ini berfungsi sebagai pondasi analitis untuk melihat bagaimana narasi identitas dikonstruksi dan bagaimana fenomena sosial harus dipetakan secara objektif namun tetap berempati.
Kajian kemudian ditarik ke dalam ranah yang lebih pragmatis dan struktural. Masalah-masalah yang seringkali menjadi sumbu ketegangan di Indonesia, seperti agraria dan hubungan industrial, mendapat porsi pembahasan yang mendalam. Melalui mata kuliah Masalah Agraria & Perubahan Sosial yang dibimbing oleh Prof. Dr. Bambang Hudayana dan Dr. Wulan, serta Konflik Relasi Industrial bersama Prof. Dr. Amalinda Savirani, mahasiswa akan membedah bagaimana relasi kuasa dan akses terhadap sumber daya ekonomi seringkali menjadi bentuk kekerasan struktural yang tersembunyi.
Strategi Intervensi dan Perlawanan Nirkekerasan
MPRK UGM juga menekankan pentingnya instrumen resolusi yang presisi. Mata kuliah Manajemen Konflik II yang diampu oleh Dody Wibowo, Ph.D. dan Dr. Titik Firawati, serta Analisis Kebijakan & Pembuatan Keputusan bersama Prof. Dr. Phil. Gabriel Lele, bertujuan membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk merancang intervensi yang tidak hanya bersifat reaktif, tetapi mampu mengubah tatanan kebijakan secara transformatif.
Lebih jauh lagi, dimensi perlawanan rakyat didekati melalui mata kuliah Perlawanan Nirkekerasan yang diampu oleh Dr. Daniel Petz dan Diah Kusumaningrum, Ph.D. Di sini, perdamaian dipahami bukan sebagai kepatuhan pasif, melainkan sebagai upaya aktif dan strategis dalam menuntut keadilan tanpa menggunakan kekerasan fisik.
Menuju Perdamaian Positif
Seluruh rangkaian proses akademik di semester ini bermuara pada satu cita-cita besar: pencapaian Positive Peace (Galtung, 1969). Ini adalah kondisi di mana perdamaian bukan sekadar absennya konflik senjata, melainkan hadirnya keadilan sosial dan hilangnya segala bentuk marginalisasi. Dengan dukungan para pengajar yang memiliki rekam jejak akademik dan lapangan yang kuat, MPRK UGM berharap setiap mahasiswa dapat bertransformasi menjadi aktor perdamaian yang memiliki nalar kritis yang tajam namun tetap dipandu oleh empati sosial yang mendalam.
Semoga setiap diskusi di ruang kelas menjadi kontribusi nyata bagi terciptanya masyarakat yang lebih adil dan damai.
Penulis: Mariano Ombo
Kegiatan ini merupakan salah satu usaha MPRK UGM untuk mendukung SDGs nomor 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh (Peace, Justice, and Strong Institutions) – SDGs nomor 4 tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education) – SDGs nomor 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan (Reduced Inequalities) – SDGs nomor 1 tentang Tanpa Kemiskinan (No Poverty) – SDGs nomor 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi (Decent Work and Economic Growth).