
Program Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di SMAN 1 Wonosari pada Kamis, 21 Agustus 2025 dengan tema Pendampingan Guru Menjadi Pendidik Perdamaian. Kegiatan diikuti oleh 16 guru dan difasilitasi Dody Wibowo, Ph.D bersama empat mahasiswa MPRK, yaitu Tia Mega Utami, Ridhwan Satria Kumara, Alya Maharani dan Dimas Adi Nugroho.
Pendampingan kali ini berfokus pada penguatan pemahaman guru mengenai identitas dan relasi kuasa. Tujuannya untuk melatih kesadaran kritis yang menjadi basis utama mewujudkan pendidikan perdamaian di masyarakat. Selain sesi diskusi dalam kelompok besar, para peserta juga dibagi ke dalam kelompok kecil untuk melakukan observasi ke luar sekolah guna memetakan berbagai persoalan sosial dan menganalisisnya menggunakan konsep segitiga kekerasan Johan Galtung.
Setelah observasi, para peserta kembali ke ruangan dan menceritakan hasil temuannya masing-masing. Sebagai contoh, seorang guru mengamati di sekolah belum tersedia akses yang ramah disabilitas, bahkan guru yang sedang hamil pun merasa kesulitan menaiki tangga tangga ke lantai dua. Selain itu, terdapat pula trotoar yang rusak dan tidak ramah difabel, hingga lampu penerangan jalan yang minim. Kendati demikian, para peserta menyadari bahwa segala sesuatu itu merupakan bagian dari bentuk kekerasan struktural yang telah dinormalisasikan menjadi kekerasan kultural, sehingga dampaknya muncul kekerasan langsung, dan bisa dirasakan saat itu juga.
Para guru sangat antusias mengikuti pendampingan ini hingga selesai, dan menyampaikan komitmennya untuk selalu menanamkan nilai-nilai perdamaian serta mewujudkannya melalui sektor pendidikan. Adapun program pendampingan selanjutnya dijadwalkan pada Oktober 2025, sekaligus menjadi penutup rangkaian PkM MPRK tahun ini.