Survey Konflik Membawa Konflik (P.A Nara Indra, Angkatan 2013/2014)

Pada akhir semester lalu, beberapa orang dari kelas kami menjadi surveyor untuk riset konflik yang sedang dikerjakan Pak Riza Noer Arfani. Kisah ini dialami tiga orang kawan kami, Pak Gito, Pak Karjo, dan Pak Taufik.

Ketiganya ditugaskan di salah satu desa di Kecamatan Ngaglik, Sleman. Suatu ketika mereka berniat menemui kepala desa. Maksudnya untuk kulo nuwun kepada Pak Kades. Sesampai di kantor kepala desa, mereka langsung disuruh menghadap.

Begitu mengetuk pintu terdengar suara menggelegar dari dalam.

“Masukk!!”

Perasaan mereka sudah mulai tidak enak.

Pak Gito dan Pak Karjo lantas duduk di depan Pak Kades. Sementara itu, Pak Taufik agak di belakang.

Pak Gito dan Pak Karjo memperkenalkan diri. Keduanya bekerja di Kehutanan.

“Kalian tahu kenapa hutan di Indonesia rusak??” tanya Pak Kades.

Hening sejenak.

“Karena SOEHARTO!!” teriak Pak Kades.

“Tapi peraturannya sudah begitu, Pak,” jawab Pak Karjo.

“Bodoh!!!” potong Pak Kades sambil menggebrak meja.

Akhirnya selama setengah jam, Pak Gito dan Pak Karjo kenyang diceramahi Pak Kades yang ternyata memang terkenal garang. Pak Taufik sendiri cuma melihat dari belakang sambil senyum-senyum.

Beberapa hari kemudian, mereka bertiga menceritakan kejadian itu pada kami sekelas. Pak Karjo mengambil hikmah dari kejadian itu: “Salah saya waktu itu… Harusnya saya pakai taktik avoiding (menghindar) kayak yang diajarin di kelas kemaren …”.

Putu Agung Nara Indra Prima Satya
Mahasiswa MPRK angkatan 2013-2014

1057 Total Views 2 Views Today