Memilih Topik Penelitian : Passion could become a Poison!

Seringkali kita mendengar ungkapan motivasi begini: ‘lakukanlah yang Engkau cintai, niscaya hasilnya akan luar biasa’. Ungkapan ini tentu saja berlaku bagi Anda yang sedang mencari topik penelitian. Carilah topik penelitian yang benar-benar Anda suka, itu kunci pertama. Hanya dengan cara ini Anda bisa memiliki passion dalam melakukan penelitian. Kalau tidak memiliki passion, tentu penelitian atau studi akan menjadi kegiatan yang membosankan, seperti penjara. 

Namun demikian, ternyata modal passion saja tidak cukup! Alasan orang untuk menyukai sesuatu itu banyak sekali, dan bahkan banyak alasan yang malah bersifat sangat personal dan emosional-primordial. Di sinilah passion Anda akan menghadapi ujian pertamanya. Yakni bagaimana membawa topik penelitian berbasis passion, penelitian yang Anda sukai itu, menjadi problematique-based topic. Seringkali passion yang hanya didasarkan pada alasan personal akan terjungkal di level ini. Saya sering mendengar ungkapan seperti ‘karena saya orang Sunda, saya akan meneliti budaya Sunda’, ‘saya sangat suka musik reggae, maka saya akan melakukan kajian tentang Bob Marley’, dan sebagainya. So what??!! Tanpa bisa mengerangkai passion Anda dalam problematique tertentu, maka usulan topik-topik semacam itu tidak ada artinya.  Anda harus berani maju lebih jauh!!

Pemilihan topik penelitian bermodalkan passion juga sering menjadi bumerang, terutama jika Anda mengajukan beasiswa. Mereka mungkin akan mengatakan ‘Emang lu siapa, apa urusan riset lu ama gue?’ Tentu yang terbaik adalah ketika ada kesamaan—Anda mencintai bidang tertentu, dan pihak pemberi beasiswa juga suka dengan bidang itu. Namun dunia tidak selalu mulus seperti para cherrybells. Dan di sinilah tantangan kedua Anda. Dalam tantangan pertama tadi, tugas Anda adalah membuat passion Anda relevan atau punya signifikansi bagi produksi pengetahuan. Sementara dalam tantangan kedua ini, Anda harus menegosiasikan passion Anda dengan orientasi lembaga pemberi beasiswa. Percayalah bahwa menegosiasikan passion itu sama sekali tidak berarti melacurkan idealisme Anda. Idealisme harus dijaga terus, sampai mati kalau perlu, sampai hidup lagi, sampai di neraka kelak! Anda masih suka jargon-jargon itu? Hmmmm.

Luqman-nul HAKIM

Staf pengajar MPRK yang berhasil mendapatkan beasiswa Australia Awards Scholarships Aid (AusAID) untuk program S3 di Murdoch University, Perth, Australia Barat

1139 Total Views 4 Views Today