Kejadian Aceh Singkil dan tempat-tempat lain mengingatkan kita akan kejadian Tolikara, artikel di bawah ini tulisan salah satu mahasiswa MPRK UGM TA.2014/2015 yang diterbitkan pada hari Kamis tgl 23 Juli 2015 pada Kedaulatan Rakyat

Bina Damai untuk Tolikara

Arif Zaini Arrosyid

Arif Zaini Arrosyid Di tengah kusuknya umat Islam merayakan kemenangan dan menggemakan takbir satu syawal 1436, bangsa ini dihenyakkan peristiwa kerusuhan di Tolikara, Papua. Kerusuhan mengakibatkan kerusakan tempat ibadah umat Muslim dan sejumlah kios yang berada di sekitarnya. Dampak kerusuhan, bukanlah fisik semata, namun juga non fisik baik berupa psikis atau trauma dan tercabiknya tatanan kehidupan bermasyarakat yang telah terbina selama ini.
Dampak kerusuhan secara non fisik ini justru lebih besar dibanding kerusuhan fisik. Maka, perlu pemulihan super ekstra. Sebab, trauma dapat bertahan bertahun-tahun bahkan seumur hidupnya, diwariskan ke anak cucu. Bertahannya trauma ini membuat warga tidak produktif dalam memenuhi kebutuhan hidup dan bertoleransi. Ibarat memelihara api dalam sekam, dalam trauma masih ada dendam yang bisa semakin menebal, yang pada suatu saat muncul dan menjadikan luapan emosi yang lebih parah. Apalagi jika luapan itu menjadi luapan lembaga atau kelompok.
Terjadinya kerusuhan tentu memprihatinkan kita semua sebab telah mengoyak kehidupan dan kerukunan yang terjalin selama ini di daerah tersebut, juga di daerah lain. Disebut daerah lain karena kerusuhan di satu daerah sedikit banyak berimbas pula pada tercabiknya kerukunan yang telah terbina di daerah lain, terutama yang punya keterkaitan atau jalinan nasib yang hampir sama.
Maka itu, diperlukan kecepatan dan kecermatan dalam penanganan konflik yang terjadi di suatu tempat. Kecepatan penanganan konflik seperti meredam konflik agar tidak meluas ke daerah lain atau kerusuhan tidak semakin destruktif. Disini langkah yang dilakukan adalah berdialog dengan mempertemukan stakeholder terutama warga atau pihak yang berkonflik.Sifat pertemuan bukanmengadili, mencari siapa yang salah dan benar, melainkan membicarakan permasalahan yang terjadi diantara mereka. Warga dipersilahkan mengungkapan perasaan dan ganjalan hati yang selama ini terpendam. Dari persepsi masing-masing yang berkonflik tersebut akan diketahui duduk permasalahan atau akar permasalahan.
Dari akar masalah itu, mereka merumuskan sendiri formula-formula untuk membenahi hubungan yang pada akhirnya dapat terjalin kerjasama untuk hubungan yang lebih baik, aktif dan produktif demi masa depan. Tatanan baru tersebut diharapkan dapat memperbaiki tatanan sebelumnya.
Komprehensif maksudnya pemulihan untuk bina damai harus menyentuh segala aspek, tidak hanya pada kerusakan bangunan fisik, melainkan juga dari sisi ekonomi, sosial, budaya dan politik serta pendidikan. Proses pemulihan juga harus mengakui budaya dan cara hidup setempat sebagai dasar dari seluruh perencanaan upaya bina damai. Warga harus terlibat dalam setiap tahap pemulihan, dan keahlian serta tenaga kerja mereka yang menjadi sumber daya utama.Tentu, perlu tindakan hukum bagi pelaku kerusuhan. Bagaimanapun juga, negara ini adalah negara hukum sehingga pelanggaran hukum harus ditindak untuk menciptakan efek jera bagi mereka yang melakukan tindakan kriminalitas serta mencegah mereka yang akan berbuat kerusakan.
Pada sisi yang lain diperlukan perluasan pemikiran dalam pencarian akar permasalahan konflik dan juga penyelesaian konflik yang terjadi di suatu tempat. Mungkin kita bisa memahami sebuah pepatah yang menyatakan dua gajah berkelahi rumput rusak terinjak-injak. Kejadian di Tolikara, bisa jadi sebagai buah pertarungan pemimpin yang tidak bijak bersikap dan berbuat sehingga mengorbankan masyarakat, yang kebetulan beda agama. Pemimpin di sini, bisa jadi di kabupaten, propinsi, ibu kota negara atau bahkan dunia internasional.